Jumat, 03 Juli 2009

Kaitan Vegetarian dengan Lingkungan Hidup


Umat manusia kini dihadapkan pada satu masalah yang cukup berat yakni pelestarian alam serta lingkungan hidup. Maha bencana bagi anak manusia sulit diredam dan dihindari jika masalah alam dan lingkungan hidup ini tidak segera di tanggulangi.

Tentunya masalah ini amat kompleks dan tak segampang membalikkan telapak tangan. Namun bila faktor penyebabnya ditelusuri secara mendalam, ternyata memasyarakatkan vegetarianisme akan menjadi solusi yang jitu bagi problema ini.

Untuk menekan laju pemborosan sumber daya alam dan polusi lingkungan, ketergantungan manusia pada daging hewan mau tidak mau harus dikurangi sehingga kerusakan lingkungan yang dipicu dari peternakan hewan bisa diredam. Kebiasaan mengkonsumsi daging hewani dalam jumlah besar menjadi pemicu ramainya usaha peternakan di berbagai negara.

Di Amerika Latin , peternakan merupakan dalang utama terjadinya kemusnahan hutan tropis. Aksi penebangan hutan guna dijadikan lahan merumput adalah cara yang keliru di dalam eksploitasi sumber daya alam.

Demi sepotong steak sapi seberat 0.25 pons, manusia rela melenyapkan habitat 20 jenis tumbuhan, 100 jenis lebih serangga langka dan 20 jenis lebih burung dan binatang.

Air yang terpakai dalam peternakan untuk menghasilkan 1 kilogram protein hewani 15 kali lipat lebih besar dibandingkan untuk menghasilkan 1 kilogram protein nabati (biji-bijian dan kacang-kacangan).

Ironisnya , 50 % Air tawar sedunia terpakai untuk peternakan, seperti untuk menanam makanan ternak , untuk diminum dan membersihkan ternak.

Di Taiwan, penyebab utama polusi air berasal dari dari air limbah peternakan babi, ayam dan itik. Air pembuangan tiap ekor babi ternak, 5 kali lebih banyak ketimbang manusia. Bila memelihara 10 juta ekor babi berarti air limbah pembuangannya sebanding untuk 50 juta orang. Bisa dibayangkan dampak buruknya bagi lingkungan hidup.

Selain itu, konsumsi daging yang berlebihan juga menimbulkan kekurangan makanan makanan di berbagai belahan dunia. Saat ini ¼ penduduk dunia masih menghadapi bencana kelaparan sepanjang tahun. Padahal, 2/3 padi-padian yang dihasilkan penduduk dunia malah digunakan untuk makanan ternak. Tak sedikit Negara yang mengaku kekurangan pangan malah menanam berbagai jenis makanan ternak dan tanaman ekonomi yang dibutuhkan negara-negara maju di atas lahan yang seharusnya menjadi sumber pangan rakyatnya. Misalnya Ethiopia, di tahun 1984 ribuan anak manusia mati kelaparan di negeri afrika itu setiap harinya dan lucunya, tahun itu pula Negara tersebut mengekspor tanaman makanan ternak ke Amerika dan Eropa seharga jutaan US$.

Dalam laporannya yang berjudul Livestock's Long Shadow : Enviromental Issues and Options (dirilis November 2006), PBB mencatat bahwa 18% dari pemanasan global yang terjadi saat ini disumbangkan oleh industri peternakan, yang mana lebih besar daripada efek pemanasan global yang dihasilkan oleh seluruh alat transportasi dunia digabungkan! PBB juga menambahkan bahwa emisi yang dihitung hanya berdasarkan emisi CO2 yang dihasilkan, padahal selain sebagai kontributor CO2 yang hebat, industri peternakan juga merupakan salah satu sumber utama pencemaran tanah dan sumber-sumber air bersih.


Sebuah laporan dari Earth Institute menegaskan bahwa diet berbasis tanaman hanya menbutuhkan 25% energi yang dibutuhkan oleh diet berbasis daging. Penelitian yang dilakukan Profesor Gidon Eshel dan Pamela Martin dari Universitas Chicago juga memberikan kesimpulan yang sama : mengganti pola makan daging dengan pola makan vegetarian 50% lebih efektif untuk mencegah pemanasan global daripada mengganti sebuah mobil hibrida. Seorang vegetarian dengan standar diet orang Amerika akan menghemat 1,5 ton emisi rumah kaca setiap tahunnya!


Seorang vegetarian yang mengendarai SUV Hummer masih lebih bersahabat dengan lingkungan daripada seorang pemakan daging yang mengedarai sepeda!



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar